PUISI

zeppelin art : car burning man
.
.
.
Kolecer
.
aku akan kehabisan bambu
bila harus menyulam bilik pondokmu
untuk menghadang angin barat itu.
.
aku pun akan kehilangan
pohon keramat kampungku,
hanya untuk membangun dinding kayu
pada kamarmu.
.
maka kuhadiahkan sebatang pancang
tubuh gombong bambu.
juga seraut kayu
yang memipih,
mengusik musim yang menepi kini.
.
kau boleh memilih jati, tisuk, bihbul
atau surilem sesukamu.
sebab sungguh luas hasratku
memanggulnya di atas punggung
Galunggung yang kian penuh-peluh.
.
mengaraknya ke pematang sawah
dan menancapkan tepat
ke kedalaman tanah.
tegaknya seperti isyarat pitarah
di mana selalu tertuju pada wibawa.
.
pusarnya yang mengunci
menjagai wajah angkasa yang perkasa.
ekornya melambai
membagikan wajah angin yang tergerai.
.
dan apabila terdengar dengungannya
burung-burung terusir sudah,
padi-padi tumbuh suburlah.
.
anak-anak menyukai suaranya
seperti mendapati teman sejawat
yang setia mengisi tabah
ke tiap rusuk dadanya
dan akan senantiasa terawat
di dalamnya.
.
suatu petang di bawah cahaya jingga
yang semakin mematang,
diriku menghadapinya,
terasa lebih menantangnya.
tapi langit juga terhisap
ke dalam pusarnya.
sehingga teramat gegabah
bila wajah resah terus saja
kubiarkan tengadah.
.
(2014)
.
.
.
.
. 
Ngurek
.
tanpa sebatang gagang
aku masih bisa berkhidmat
di hadapan rahasia lubang.
.
menanti penuh kesabaran
di uluran benang yang bergetaran.
sepanjang mata kail menadah umpan
agar terjerat sang tubuh hitam panjang
si lihai berkelit, belut berlilitan.
.
semoga tangan peka
pada setiap geletar kiriman.
sebelum peluh menetes
berluruhan tak tertampung
ujung hari yang berkesudahan.
.
saling merenggut dan bersikukuh,
sang buruan tak mudah patah
di seberang kelam dan jauh
dari murahan pada rasa menyerah.
.
andaikan tanganku lengah
dan kehilangan arah,
ia pastinya menemu celah
kabur dan tak sempat terangkum gugur.
.
tapi kecergasanku
membikinnya pasrah makin melemah.
setelah tercerabut ke akar pertahanannya
dua-tiga hantaman ke tanah
akan membuatnya jerih
sampai di puncak letih.
.
(2013)
.
.
.
(Sumber, Kompas 2 Maret 2014)

3 Puisi

image

.

.

.
Sebatang Ilusi
.
barangkali ia hanyalah tubuh sungai
yang tak tahu ke mana lagi harus mengalir.
.
sementara sudah terlampau sering, tapal batas lamunan
sampai jadi tafsir atau sekadar hanya tersisir.
.
beberpa sunyi menggelayutinya
tapi entah kapan mereka harus melepas pagutnya.
.
sampai sebuah puisi bergerak dari kedua sisinya yang samar
hingga kita tak lagi sanggup mengakrabinya
sebagai sesuatu yang kembar.
.
2013
.
.
.
Kebun Bisa
.
ditebarnya kalajengking dan ular
ke lapang tanah tak bertuan,
semoga tak ada para pejalan awam
yang tersesat ke sana.
ditumbuhkannya mawar liar
agar terasah durinya
dan khatam mencari lubang perihnya.
.
malam pulas di ruas tubuh laba-laba,
hingga terasa sejengkal petaka
akan menegurmu dalam subur lamunan.
.
buah-buah hitam berjatuhan
dari dahan kesunyian,
ilalang yang terusap tangan
terasa basah bernanahan.
.
hanyalah kita yang bisa berharap
menanam gaduh hujan
jadi suara merdu pada telinga,
dan memanen rona gerimis
yang tak kunjung reda
jadi senja merah pada mata.
.
2013
.
.
.
Metamorfosis
buat Semi Ikra Anggara
.
tubuhnya masih kepompong kopong
di mana tulang-belulang
hanya bersum-sum sepi.
belum terentang tubuh sutra
saat mengibas sunyi ke udara.
.
begitu rentan pada dingin
dan enggan menyentuh sehelai
benang hujan sekalipun.
.
saat panggung tinggal retak dahan
dan tetabuhan di belakang layar,
cuma selabur duka berulang-ulang.
sehimpun bunga taman kefanaan
mencelupkan jarimu ke luka lainnya.
.
kini ia membuka rekatan mimpi
di sekujur kegelisahannya.
hendak jadi binatang nabi
memohon warna hidupnya paling nisbi.
.
2013
.
.
.
(Sumber Koran Tempo, 26 Januari 2014)

Puisi

image

[Woman of Mystery Author
tremolino96 190x190 76 crosses colors]

.

.

.
Dikunjungi Bujang
.
ia gemar berdendang, memetik gitar
dengan suaranya yang lumayan menggetar
kini terasa meruang-lengang
di beranda depan.
.
katanya ia juru pantun dari seberang
mengaku bujang petualang
mencari persinggahan
mencuci ingatan
mencuri jurus petapa
dari kamar para penyair
yang berantakan.
.
kadang si bujang
menciptakan bunga dari puisi
sekadar berbasi-diksi untuk kekasih hati.
.
si bujang sering menyesap kopi
dari perahan petang yang masih membentang.
juga gemar menghisap kretek
sambil berkisah tentang mataharinya
yang kini pecah dan harus rela
untuk berpisah dengannya.
.
(2012)
.
.

.
Petapa
.
kata-kata kehilangan kegaibannya
hanya dalam gua keheningan
mereka terdengar membisikkan namamu.
.
setelah kesunyian berabad-abad
kau anggap batu, gunung bahkan sungai
mengapa mesti tamasya ke dalam sejarah.
jika dengan berdiam diri saja
kau akan meledakkan bintang
dan menghadiahkannya pada seorang
yang mencintai anak-anak.
.
jauh ke dalam keterasingan
memerankan nasib sebagai gasing
yang kekal terus berputar.
.
(2012)
.
.
.
Panggung
.
ini punggungku,
tempat kau menyuruh sepi
memerankan adegan puisi
yang belum sempat kutuliskan.
.
ini telapak tanganku,
tempat kau menemukan
takdir sebagai tokoh
yang hidup di dalam kepalaku.
.
di mana pun itu
selalu menjadi panggung
yang setia memerankan takdir
sebagai lakon yang getir.
.
(2012)
.
.
.
Tomat
.
puisimu seperti kulit merah tomat
siapa saja ingin mengecupnya.
.
kata-katanya seakan daging renyah
mengurung biji lembut yang lucu nan lugu.
.
kalimatnya seolah memintaku
untuk mengunyahnya, resah tak kunjung
kenyang dan menemu puas di ujung gigitannya.
.
sebelum pecah di lambung perih
seorang penyair yang dari pagi
hanya bisa menyesap secangkir kopi.
.
(2012)
.
.
.
Baju Puisi
.
kesunyian yang telanjang
harus mengenakan pakaian
dari kemurnian.
sekarang kau rajin menciptakan
baju untuk kata-kata
yang kerap berkeliaran
dari halaman-halaman dan
buku yang kita agung-agungkan.
.
sebuah gambar yang tercetak
di atas baju itu, mungkin raut senja
atau kenangan kanak-kanak kita.
tapi siapa saja yang ingin
mendapatkannya
ia akan hidup seperti mata kata
: menangkap bayang dan doa belaka.
.
(2013)
.
(Sumber : Koran Indopos, 5 Oktober 2013)


PUISI

image

.

.

. 

Jampi Menyergap Belut

.

pupuri tangan kawula Gusti,

getahnya tanah sawah

kukunya tajam runcing jerami.

 .

cengkeram terhindar lepas kabur.

genggam lekas menemu labur.

.

pipih di sela jemari,

letih di kepal ini.

.

(2013)

.

. 

Jampi Menebar Ikan

.

jangan hendak kau ke hilir

bisa kail nanti menemu bibir.

jangan hendak kau ke hulu

bisa kilat menuju dahimu.

.

(2013)

. 

.

(2013)

. 

.

Jampi Memandikan Domba Sebelum Diadu

.

kumohonkan pada air basuhan ini,

selanggeng takbir menyimbahi rautmu.

tumbuh dari sejuknya, manjur ke ubunnya.

sari dari penciptanya,

sari jisimnya, 

sampai sari sukmanya.

.

daging bagai ruap kembang

darah bagai rekahan mahkotanya.

urat dari sumsum ningrat,

sumsum terisi penuh air mawar.

.

serumpun kulit, 

bambuku bergulung di tanah

satu alif luhur, kuncuplah!

.

(2013)

.

. 

Jampi Ayam Adu

.

sehelai bulu gugur ke tanah,

ditempa cahaya jadi memerah.

jangan sungkan wibawa pitarah,

tersisihlah dendam juga amarah.

.

tajinya setikam belati,

paruhnya setangguh gergaji.

mengirap cakrawala,

mengerjap membuka laga.

.

kulit seliat getah,

darah sesubur tanah,

kuku sekukuh batu.

.

kalaulah harus camping mahkotanya,

tumbuhlah pucuk mawar di esok harinya.

.

(2013)

. 

.

Jampi Dihadang Ular

.

dahan menghadang, ranting melintang

jangan menjegal jalan Nabi,

berpagutlah pada genggam-cakar diri.

dahan datang, ranting merintang,

tercerabutlah, patahlah!

jalan badak terseok karena kilat,

jalanku tersuruk karenamu.

.

dingin sempurna,

di lekuk jalan setapak,

di tiap tanah berjejak.

.

enyah, 

ampuhlah azimatku!

.

(2013)

. 

.

(Sumber: Kompas 07/07/2013)

3 PUISI

(Art Installations)

Monika Grzymala 

at Sumarria Lunn Gallery

.

.

.

EKOR SUNGAI

.

ia melilit seluruh kampung dan menelantarkan

bayi sunyi di antara kuap ikan dan sergap kabut.

ricik membujuk bangkai daun, ranting patah

dan bayang pohon agar ikut hanyut terenggut.

jadi sisik kemilau memantulkan pedih semesta.

riaknya paras muram yang enggan lekas di tiap lekukan.

.

sesekali ia mengibaskan ekornya tatkala hujan runtuh 

memanggil ruh batu yang menghuni sepanjang tubuh.

.

orang-orang yang menyeberanginya mengira akan 

segera sampai meninggalkan wajah duka dengan langsai.

tapi ia arus dan benih tipu daya. 

kaki-kaki yang mencebur ke sana dibasuh-sepuhnya. 

pada permukaannya terekam penuh dalam gaib kuyupnya.

.

kini tinggalah jejak basah pada tanah sisa pejalan,

akar semak belukar dengan segera menyesapnya.

sampai tak ada sisa sekalipun setitik zarah saja 

untuk matahari yang lapar kekal senantiasa 

berkobar dalam diri kita.

.

(2012)

.

.

. 

TIRUS BATU

.

manakala biji randu dengan jubah kapas putih itu

jatuh menghuni ke lapang dada batu,

ia ingin menumbuhkan benih bagai air mata netas ngalir

di lengkung pipi kurus letih sendiri menatih perih.

.

ia hafal derap para tamu tak diundang.

semisal endapan doa yang lancar dilafal.

dan rayap lipan pengintai dosa sekujur hayat jalan

mereka sesekali melesat singgah istirah di atas cekungnya.

.

kelebat gagak ia simpankan sebagai wajah angkasa

yang ingin ditemuinya kelak.

sebab ia tak akan pernah sampai ke sana

ke kembarannya lengkung cakrawala.

ia hanya sementara sebelum dihuni sisa genangan hujan.

mirip seruap kenangan akan hangus tersulut oleh bara ingatan.

.

(2012)

.

.

. 

SISIK KABUT

.

kepingan yang berjatuhan ke muka daun bergulir di kulit damar

dan lesap pada pori batang pohonan.

hanya tersadap para renik semesta semisal tonggeret, capung 

dan semut api. sebab mereka tak pernah lengah 

mencuri nafas dari kita desah demi desahnya.

.

risiknya di leher pagi menggarit langit, meruncingkan

ujung alang-alang mematahkan gelisah burung

yang hinggap di cagak dahan.

.

ia menggeliat liar, lebih licin dari ular tembus pandang 

lihai memupus jejaknya. terkelupas bebarengan dengan lapis

dinding sepi di batin kita.

.

selebihnya kuncup di kelopak kemboja gugur 

meruapkan gemetar jemari kita, hinggap pada jaga

mata kita yang pertama menangkap suka atau lara 

di suatu ketika.

.

(2012)

.

.

.

(Koran Tempo, 23 Desember 2012)

2 Puisi

Christopher Wool, “Untitled”, 2007

.

.

Pemandian Badak Putih

.

mereka datang tanpa tembang

hanya mengokang senapan

menakuti kami

demi pala, lada dan kopi.

.

dengan tubuh jangkung

mereka merasa paling tinggi

membalas santun kami

dengan mendepak kepala berpeci ini.

.

dengan tubuhnya yang putih

dan seragam berdasi.

mereka menumbuhkan kumis

mengusapnya, seraya mendesiskan

bahwa kami tidak lebih berharga

dari pelor panas atau darah di ujung belati.

katanya, hiduplah denga berbakti

padanya, demi kehormatan melayani.

.

seperti badak dengan tubuh berpetak

mereka memamerkan diri

setiap hari, di bawah matahari

mandi dari sumur tempat moyang kami

minum dan belajar mengaji.

dan kami tingggal budak, kini

seorang tiri di rumahnya sendiri.

.

di naungi pohon beringin

mata air itu terus tak pernah kering

bagai sudah terlampau nyeri juga perih

untuk berhenti mengaliri.

.

tubuh mereka yang semakin hari

memutih tersepuh serapah kami.

menggilap disembunyikan jas

dan menghirup cengkeh dari kebun kami.

.

dari jauh kami menatap-nanap

ke arah sumber pembikin pelangi

yang memancar dari lubang sumur itu.

.

tapi mereka dengan kuda-kuda besi

melintasi jalanan yang kami bangun sendiri.

angkuh, tak mau peduli

kalau kami nanti mati

karena haus dan terlindas 

kaki-kaki baja, tertabrak sengaja

oleh cula-culas mereka.

.

(2012)

.

.

Variasi Pupuh Balakbak

.

/a/

.

ada gelatar sukma di tangan fana ; asmara

santun digembalakan ke padang doa ; aura

selalu, selalu sampai pada ruang tanpa sisa ; niscaya

.

/b/

.

ada sunyi dijatuhkan dari langit ; puisi

sesekali kuas nafsunya meningkahi ; pelangi 

katanya, katanya berisi ingatan tentang hujan ; abadi

.

/c/

.

ada kemboja jatuh ke dada makam ; ingatan

melepas ruap, meletup dari dosa ; impian

perlahan, perlahan mencecar kesenyapan  ; kenangan

.

/d/

.

ada bara di lipatan ingatan ; amarah

seperti dahaga tak sampai tandas ; gairah 

setia, setia menjaga sekam dalam kenangan ; musibah

 .

/e/

.

ada kepak kelelawar langit petang ; sengsara

sayapnya meruntuhkan pecahan duka ; derita

seakan, seakan tak lagi bisa terbang bayang ; petaka

.

(2012)

.
(Sumber : Kompas, 18 November 2012)
.

Di Kepak Kelelawar

Chris Hawkins

"Girl with Bat", oil on canvas, 71"X51"

.

.

seperti halnya, geletar tangan penyair

mencoba menuliskan kembali

puisinya yang hilang.

.

kepak kelelawar

membawa sunyi lebih sabar.

menghunuskan maut dalam kelebatnya

ketika kabut yang luruh

jatuh dengan raut lebih sengkarut.

.

di setiap lesatannya ke deret pepohonan

mimpi-mimpi muram dijatuhankan

sebagai induk ke tanah.

lalu lipan, laba-laba dan ular

ikut mengeraminya.

.

seperti juga larik demi larik

puisi yang mulai terbayang, dijelmakan

kulit malam.

diam-diam, kelelawar itu mencoba menyaru

dalam warna murung semesta.

.

akhirnya, serupa penyair

yang tak bisa menemukan lagi

sepatah kata sekalipun.

ia hinggap di ranting dan menutupi

diri dengan sayap senyapnya.

.
2012

PUISI

.

Hikayat Haji Alit

—Preanger Stelsel


ia lebih memilih sepasuk santri

dan kaum petani, ketimbang

para dalem yang berkomplot dengan kompeni.

ia bukan pemetik kopi

melainkan hanya pemantik api

pada dada yang rindu nyala

di antara upah rendah dan nafas desah.

.

dengan kuda putih jantan

bagai kapas lepas ke ambang petang

melenggang tenang.

.

ia memulas langit dengan warna tarum

saat tubuh pengikutnya berguguran ke tegalan.

ia dinamai siluman oleh seterunya

lihai lesap ke semak malam.

baginya kuburan, jika kampung halaman

berubah jadi tanah sewaan.

meski hanya jelata Priangan

ia mewah dalam lilitan jubah dan sorban.

.

di hadapannya, tumpul sangkur senapan

parang beradu belingsatan, memercikkan

lelatu, dan pecah ketika jatuh di tiap penjuru.

hingga akhirnya ia terhunus runcing pengkhianatan.

kelaparan perkampungan yang tumbuh

dari jejak ladam meninggalkan.

.

ia sampai pada tiang gantungan.

cahaya menguap dari sebongkah makam,

halimun melumuri sepapan nisan.

sebatang kemboja di atasnya, tertancap-tanam.

.

2012

2 Puisi, 13 Nopember 2011 Kompas

by Robert Joyner

Horse Profile II”
Media: Acrylic on 140 lb. Archival Paper
Size: 22 in X 15 in (55.9 cm X 38.1 cm)



MENGARAK KUDA KOSONG

ia menduga, jalan yang akan dilawatinya sekarang
adalah belantara dengan derap kaki tanpa ladam.
kukuh-kukunya mengenang  gemerisik daun semak-belukar
di mana tubuh tegapnya, sempurna dibidik-pandang.
masih jauh dari hasrat cambuk sais, liar sendiri
tanpa tangan juru mudi, penjinak-paksa pitarah mereka.

dari Cikarupan, setelah kuyup dimandikan di gigir makam
ia menemu kembali tubuh pulas-halus hitam kecoklatan.
yang perkasa bersatu-padan bila menyaru di padang rumputan.
di mana kala itu, ia masih pemikat betina, sang jantan pesona.
 
remuk-redamlah impian, sesaat ketika tangan penakluknya
mendesak dirinya ke arah hujan, deretan pertokoan
memintas arah angin, lantas mematahkan anak panah langit.
jadi gerimis mengalir ke liang selokan.
jadi halimun mengepung ke lekuk tubuh.
surainya kehilangan cahaya, pelana hampa tanpa doa.
 
tak dapat dibedakan, air mata tumpahkah atau mata air
yang menjirus dari sepasang matanya.
kesedihan atau sekadar murah-amarahkah
ringkik leluhur yang wibawa nan gagah itu.

2011


MUSIM ADU CUPANG BIRU
 
ia sebenarnya terlahir sebagai biru api
penyendiri di antara rawa sepi.
menanti sang betina, tergoda sekadar
menjagal berahi diri.

sungguh ia tak pernah sampai akur
meski dengan galib bayang terpantul.
sebab kembang insang,
juga sirip cagak rajam-tajamnya
sangkur siaga, siap memekak-mekar
penanda awas pada penantangnya.

ia gemar berdiam di dasar, sesaat sebelum
menyambar cacing, nyamuk bahkan musuh
suguhan penuh gairah dambaannya.

gigi-gigi tajam di nganga mulutnya
hanyalah nafsu yang redam juga
setelah melesat mencabik ridip lawannya.

ia tak segan mencium maut dengan sungut
tersulut kesumat yang tak pernah
menemu paut pada ujung bibirnya.
 
tapi jubahnya yang robek
penuh rabuk, perih tak bergetih
sehabis puas mengasah marwah.
kelak akan menemu pulih juga
serupa ampuh yang diasuh
azimat paling mujarab.

2011

TANG KUMELI KENTANG, NGEK-NGEK!

Oleh Sarabunis Mubarok

(Catatan atas buku Hikayat Pemanen Kentang)

Hal-hal sederhana membentuk kesempurnaan,
tapi kesempurnaan bukanlah hal yang sederhana”
 
Saya pernah berseloroh di antara kawan-kawan Sanggar Sastra Tasik (SST), bahwa setidaknya ada tiga hal yang pernah mempengaruhi kehidupan manusia di muka bumi, yaitu agama, bumbu, dan energi. Kontan kawan-kawan saya tertawa karena hal tersebut sepintas terdengar lugu dan kocak.

Bumbu, pada beberapa abad silam telah menggerakkan bangsa Eropa untuk merambah berbagai kawasan di dunia, pun ke indonesia. Bangsa Spanyol, Portugis dan Belanda rela jauh-jauh datang ke Maluku hanya untuk mendapatkan rempah-rempah. Lada, kemiri, cabai, lengkuas, jahe, kencur, kunyit dan sejenisnya, pada masa itu menjadi barang yang sangat berharga. Demi memuaskan lidah, pada masa itulah bangsa Eropa melakukan ekspansi besar-besaran, yang kemudian membawa akibat, Nusantara terjajah selama ratusan tahun.

Di Indonesia sendiri, makanan memiliki sejarah yang sangat panjang dan beraneka ragam seiring dengan keanekaragaman budaya di masing-masing daerah. Maka wajar saja jika nasi yang menjadi makanan pokok hampir di semua daerah, menyandang berbagai istilah khusus dalam rangkaian proses memasaknya. Sawah kebunnya, padi pohonnya, gabah bulirnya, beras dagingnya, tepung bubuknya. Setelah dimasak memilik banyak nama pula; nasi, tumpeng, wuduk, liwet, bubur, kupat, lontong, dan sebagainya.

Begitupun dengan tumbuhan, ada ratusan ribu spesies yang tumbuh di indonesia. Tentu saja banyak hal mengerikan ketika kita berbicara tentang alam. Keserakahan manusia menyebabkan tumbuhan satu persatu menuju kepunahan. Hutan terus dibabat, pohon-pohon mulai menuliskan biografinya untuk dikenang di buku-buku catatan.

Dan tiga hari yang lalu, saya menerima sebuah buku tentang berbagai makanan dan tumbuh-tumbuhan. Tapi bukan buku resep atau catatan keanekaragaman hayati, melainkan sebuah antologi puisi, berjudul “Hikayat Pemanen Kentang” karya Mugya Syahreza Santosa, penyair muda potensial asal Cianjur, Jawa Barat.

Meskipun dalam tiga atau empat tahun terakhir ini banyak penyair yang menulis puisi bertema kuliner, buku Syahreza ini masih cukup menarik untuk disimak. Secara umum bukunya bercerita tentang dua hal, yaitu tumbuhan dan makanan. Ditulis dengan tuturan bahasa yang sederhana, tidak njlimet, enak dibaca dan dipenuhi banyak rima meskipun pola rimanya tidak terlalu beraneka.

Tiga puisi pembuka dalam antologi “Hikayat Pemanen Kentang” bertema umbi-umbian. Dari tiga sajak inilah saya menemukan Syahreza benar-benar mengakrabi umbi-umbian, terutama kentang dan singkong. Diawali dengan sebuah puisi berjudul ‘Musim Panen Pekebun Muda” dan dan ‘Pemanen kentang”. Dua puisi ini menghadirkan metafor sederhana dengan diksi-diksi yang cukup akrab di telinga, namun mampu menyiratkan makna-makna yang mampu menghentak rasa, membawa pembaca pada kesadaran akan sebuah kebersahajaan.

Dan meskipun bersubjek orang ketiga, dua puisi yang bercerita tentang musim panen ini terasa kuat mengeluarkan empirisme penyairnya. Ada kegembiraan atas sebuah hasil dari proses yang memerlukan kesabaran. Juga ada ritual sederhana sebagai bentuk kebersyukuran. Semoga memang sejembar itu adanya, meskipun saya tidak mendengar jeritan tanah yang diracuni pupuk kimia, atau rintihan daun yang disiram insektisida.

Puisi ketiga berjudul “Singkong”. Ada sebuah samar kenangan yang melecut dari masa kanak. Dengan aku lirik yang cukup kuat, Syahreza berhasil mendedahkan kasih sayang dalam sebuah kesederhanaan.

Saya mungkin tidak terlalu tertarik pada diksi-diksi dalam sajak ketiga ini. Namun ada sebuah ironisme yang terbaca di akhir bait ke dua, seperti memberi jawaban atas dua puisi sebelumnya. Kalimat yang menjelaskan bahwa singkong yang dihadapinya bukan singkong yang sama dengan singkong yang telah membesarkannya, seolah memberitahukan kepada pembaca bahwa kanak-kanak inilah yang kini jadi pekebun muda, mengikuti jejak ibu-bapaknya.

Selain tiga puisi pembuka, saya tertarik pada dua puisi lainnya yang berjudul “Rebung” dan “Hikayat Gairah Aur”. Dua sajak yang bercerita tentang pohon bambu muda dan bambu tua ini seperti hendak membangun kontradiksi, dan mengisyaratkan sebuah ironi. Dua sajak ini seolah ingin mengingatkan pembaca pada nasib yang tengah dan akan dijalani.

Berikut nasib bambu muda pada larik puisi “Rebung”:  bertahanlah rebung-rebung di rumpun aur itu/ hidup kalian memang akan sampai di situ/. Sedang pada puisi “Hikayat Gairah Aur” tertulis: Jangan tebas mereka, jangan potong pula/ sebab jauh di dalam hatinya/ dikandung gairah, menggenang cinta/ sepanjang hayatnya/.

Begitulah penyair menuliskan aur muda yang ditakdirkan menjadi sayur, dan gairah aur tua yang akan sampai di liang kubur.
Selain lima puisi tersebut, puisi-puisi tentang tanaman lainnya sangat terasa lokalitasnya. Ada sehimpun kedekatan penyair dengan kehidupan sehari-harinya.

Saya kira masih sangat terbuka jika tema-tema tersebut didalami lebuh jauh, sehingga menghasilkan puisi yang lebih menarik, agar tak terasa terburu-buru, dan tdak terbaca sekedar curahan emosi sepontan semata.

Selain puisi-puisi bertema tanaman, di bagian akhir antologi ini dimuat tiga belas puisi kuliner. Meskipun sangat terasa seperti memindahkan resep masakan ke dalam bentuk puisi, setidaknya puisi-puisi ini mengajak pembaca untuk senantiasa bersyukur atas apa yang telah kita makan. Pembaca juga seperti sengaja diajak menemukan hal-hal menarik pada setiap proses memasak, sampai makanan tersaji di meja makan. Pembaca juga diajak berkenalan pada berbagai perabotan dapur, bahan baku dan bumbu-bumbu.

Dari ketiga belas puisi kuliner ini, puisi ”Petunjuk Dapur” terasa lebih menonjol. Baik dari bentuk pengucapan maupun gagasan yang ingin disampaikan. Memasak rupanya sebagian dari proses hidup yang tengah bergejolak dalam batin penyairnya. Sebuah gairah masa muda dengan jujur disampaikan dalam larik berikut: sebuah cobek dan ulek/ menunggu dosa kita lumat/ dan digantikan jadi pahala/ itupun kalau bisa//.

Sedikit mengherankan memang, karena tak banyak laki-laki yang bisa atau setidaknya mengerti tentang proses masak-memasak. Apalagi saya yang taunya cuma makan saja, hehehe…


Sarabunis Mubarok,
Sastrawan dan pemerhati sastrawati
Aktif di Sanggar Sastra Tasik (SST)
dan komunitas Azan.



[Lembar Budaya, Radar Tasikmalaya, Minggu 13 November 2011]

1 note

Page 1 of 3

1

2

3

Next ›