PUISI

.

Hikayat Haji Alit

—Preanger Stelsel


ia lebih memilih sepasuk santri

dan kaum petani, ketimbang

para dalem yang berkomplot dengan kompeni.

ia bukan pemetik kopi

melainkan hanya pemantik api

pada dada yang rindu nyala

di antara upah rendah dan nafas desah.

.

dengan kuda putih jantan

bagai kapas lepas ke ambang petang

melenggang tenang.

.

ia memulas langit dengan warna tarum

saat tubuh pengikutnya berguguran ke tegalan.

ia dinamai siluman oleh seterunya

lihai lesap ke semak malam.

baginya kuburan, jika kampung halaman

berubah jadi tanah sewaan.

meski hanya jelata Priangan

ia mewah dalam lilitan jubah dan sorban.

.

di hadapannya, tumpul sangkur senapan

parang beradu belingsatan, memercikkan

lelatu, dan pecah ketika jatuh di tiap penjuru.

hingga akhirnya ia terhunus runcing pengkhianatan.

kelaparan perkampungan yang tumbuh

dari jejak ladam meninggalkan.

.

ia sampai pada tiang gantungan.

cahaya menguap dari sebongkah makam,

halimun melumuri sepapan nisan.

sebatang kemboja di atasnya, tertancap-tanam.

.

2012

2 Puisi, 13 Nopember 2011 Kompas

by Robert Joyner

Horse Profile II”
Media: Acrylic on 140 lb. Archival Paper
Size: 22 in X 15 in (55.9 cm X 38.1 cm)



MENGARAK KUDA KOSONG

ia menduga, jalan yang akan dilawatinya sekarang
adalah belantara dengan derap kaki tanpa ladam.
kukuh-kukunya mengenang  gemerisik daun semak-belukar
di mana tubuh tegapnya, sempurna dibidik-pandang.
masih jauh dari hasrat cambuk sais, liar sendiri
tanpa tangan juru mudi, penjinak-paksa pitarah mereka.

dari Cikarupan, setelah kuyup dimandikan di gigir makam
ia menemu kembali tubuh pulas-halus hitam kecoklatan.
yang perkasa bersatu-padan bila menyaru di padang rumputan.
di mana kala itu, ia masih pemikat betina, sang jantan pesona.
 
remuk-redamlah impian, sesaat ketika tangan penakluknya
mendesak dirinya ke arah hujan, deretan pertokoan
memintas arah angin, lantas mematahkan anak panah langit.
jadi gerimis mengalir ke liang selokan.
jadi halimun mengepung ke lekuk tubuh.
surainya kehilangan cahaya, pelana hampa tanpa doa.
 
tak dapat dibedakan, air mata tumpahkah atau mata air
yang menjirus dari sepasang matanya.
kesedihan atau sekadar murah-amarahkah
ringkik leluhur yang wibawa nan gagah itu.

2011


MUSIM ADU CUPANG BIRU
 
ia sebenarnya terlahir sebagai biru api
penyendiri di antara rawa sepi.
menanti sang betina, tergoda sekadar
menjagal berahi diri.

sungguh ia tak pernah sampai akur
meski dengan galib bayang terpantul.
sebab kembang insang,
juga sirip cagak rajam-tajamnya
sangkur siaga, siap memekak-mekar
penanda awas pada penantangnya.

ia gemar berdiam di dasar, sesaat sebelum
menyambar cacing, nyamuk bahkan musuh
suguhan penuh gairah dambaannya.

gigi-gigi tajam di nganga mulutnya
hanyalah nafsu yang redam juga
setelah melesat mencabik ridip lawannya.

ia tak segan mencium maut dengan sungut
tersulut kesumat yang tak pernah
menemu paut pada ujung bibirnya.
 
tapi jubahnya yang robek
penuh rabuk, perih tak bergetih
sehabis puas mengasah marwah.
kelak akan menemu pulih juga
serupa ampuh yang diasuh
azimat paling mujarab.

2011

TANG KUMELI KENTANG, NGEK-NGEK!

Oleh Sarabunis Mubarok

(Catatan atas buku Hikayat Pemanen Kentang)

Hal-hal sederhana membentuk kesempurnaan,
tapi kesempurnaan bukanlah hal yang sederhana”
 
Saya pernah berseloroh di antara kawan-kawan Sanggar Sastra Tasik (SST), bahwa setidaknya ada tiga hal yang pernah mempengaruhi kehidupan manusia di muka bumi, yaitu agama, bumbu, dan energi. Kontan kawan-kawan saya tertawa karena hal tersebut sepintas terdengar lugu dan kocak.

Bumbu, pada beberapa abad silam telah menggerakkan bangsa Eropa untuk merambah berbagai kawasan di dunia, pun ke indonesia. Bangsa Spanyol, Portugis dan Belanda rela jauh-jauh datang ke Maluku hanya untuk mendapatkan rempah-rempah. Lada, kemiri, cabai, lengkuas, jahe, kencur, kunyit dan sejenisnya, pada masa itu menjadi barang yang sangat berharga. Demi memuaskan lidah, pada masa itulah bangsa Eropa melakukan ekspansi besar-besaran, yang kemudian membawa akibat, Nusantara terjajah selama ratusan tahun.

Di Indonesia sendiri, makanan memiliki sejarah yang sangat panjang dan beraneka ragam seiring dengan keanekaragaman budaya di masing-masing daerah. Maka wajar saja jika nasi yang menjadi makanan pokok hampir di semua daerah, menyandang berbagai istilah khusus dalam rangkaian proses memasaknya. Sawah kebunnya, padi pohonnya, gabah bulirnya, beras dagingnya, tepung bubuknya. Setelah dimasak memilik banyak nama pula; nasi, tumpeng, wuduk, liwet, bubur, kupat, lontong, dan sebagainya.

Begitupun dengan tumbuhan, ada ratusan ribu spesies yang tumbuh di indonesia. Tentu saja banyak hal mengerikan ketika kita berbicara tentang alam. Keserakahan manusia menyebabkan tumbuhan satu persatu menuju kepunahan. Hutan terus dibabat, pohon-pohon mulai menuliskan biografinya untuk dikenang di buku-buku catatan.

Dan tiga hari yang lalu, saya menerima sebuah buku tentang berbagai makanan dan tumbuh-tumbuhan. Tapi bukan buku resep atau catatan keanekaragaman hayati, melainkan sebuah antologi puisi, berjudul “Hikayat Pemanen Kentang” karya Mugya Syahreza Santosa, penyair muda potensial asal Cianjur, Jawa Barat.

Meskipun dalam tiga atau empat tahun terakhir ini banyak penyair yang menulis puisi bertema kuliner, buku Syahreza ini masih cukup menarik untuk disimak. Secara umum bukunya bercerita tentang dua hal, yaitu tumbuhan dan makanan. Ditulis dengan tuturan bahasa yang sederhana, tidak njlimet, enak dibaca dan dipenuhi banyak rima meskipun pola rimanya tidak terlalu beraneka.

Tiga puisi pembuka dalam antologi “Hikayat Pemanen Kentang” bertema umbi-umbian. Dari tiga sajak inilah saya menemukan Syahreza benar-benar mengakrabi umbi-umbian, terutama kentang dan singkong. Diawali dengan sebuah puisi berjudul ‘Musim Panen Pekebun Muda” dan dan ‘Pemanen kentang”. Dua puisi ini menghadirkan metafor sederhana dengan diksi-diksi yang cukup akrab di telinga, namun mampu menyiratkan makna-makna yang mampu menghentak rasa, membawa pembaca pada kesadaran akan sebuah kebersahajaan.

Dan meskipun bersubjek orang ketiga, dua puisi yang bercerita tentang musim panen ini terasa kuat mengeluarkan empirisme penyairnya. Ada kegembiraan atas sebuah hasil dari proses yang memerlukan kesabaran. Juga ada ritual sederhana sebagai bentuk kebersyukuran. Semoga memang sejembar itu adanya, meskipun saya tidak mendengar jeritan tanah yang diracuni pupuk kimia, atau rintihan daun yang disiram insektisida.

Puisi ketiga berjudul “Singkong”. Ada sebuah samar kenangan yang melecut dari masa kanak. Dengan aku lirik yang cukup kuat, Syahreza berhasil mendedahkan kasih sayang dalam sebuah kesederhanaan.

Saya mungkin tidak terlalu tertarik pada diksi-diksi dalam sajak ketiga ini. Namun ada sebuah ironisme yang terbaca di akhir bait ke dua, seperti memberi jawaban atas dua puisi sebelumnya. Kalimat yang menjelaskan bahwa singkong yang dihadapinya bukan singkong yang sama dengan singkong yang telah membesarkannya, seolah memberitahukan kepada pembaca bahwa kanak-kanak inilah yang kini jadi pekebun muda, mengikuti jejak ibu-bapaknya.

Selain tiga puisi pembuka, saya tertarik pada dua puisi lainnya yang berjudul “Rebung” dan “Hikayat Gairah Aur”. Dua sajak yang bercerita tentang pohon bambu muda dan bambu tua ini seperti hendak membangun kontradiksi, dan mengisyaratkan sebuah ironi. Dua sajak ini seolah ingin mengingatkan pembaca pada nasib yang tengah dan akan dijalani.

Berikut nasib bambu muda pada larik puisi “Rebung”:  bertahanlah rebung-rebung di rumpun aur itu/ hidup kalian memang akan sampai di situ/. Sedang pada puisi “Hikayat Gairah Aur” tertulis: Jangan tebas mereka, jangan potong pula/ sebab jauh di dalam hatinya/ dikandung gairah, menggenang cinta/ sepanjang hayatnya/.

Begitulah penyair menuliskan aur muda yang ditakdirkan menjadi sayur, dan gairah aur tua yang akan sampai di liang kubur.
Selain lima puisi tersebut, puisi-puisi tentang tanaman lainnya sangat terasa lokalitasnya. Ada sehimpun kedekatan penyair dengan kehidupan sehari-harinya.

Saya kira masih sangat terbuka jika tema-tema tersebut didalami lebuh jauh, sehingga menghasilkan puisi yang lebih menarik, agar tak terasa terburu-buru, dan tdak terbaca sekedar curahan emosi sepontan semata.

Selain puisi-puisi bertema tanaman, di bagian akhir antologi ini dimuat tiga belas puisi kuliner. Meskipun sangat terasa seperti memindahkan resep masakan ke dalam bentuk puisi, setidaknya puisi-puisi ini mengajak pembaca untuk senantiasa bersyukur atas apa yang telah kita makan. Pembaca juga seperti sengaja diajak menemukan hal-hal menarik pada setiap proses memasak, sampai makanan tersaji di meja makan. Pembaca juga diajak berkenalan pada berbagai perabotan dapur, bahan baku dan bumbu-bumbu.

Dari ketiga belas puisi kuliner ini, puisi ”Petunjuk Dapur” terasa lebih menonjol. Baik dari bentuk pengucapan maupun gagasan yang ingin disampaikan. Memasak rupanya sebagian dari proses hidup yang tengah bergejolak dalam batin penyairnya. Sebuah gairah masa muda dengan jujur disampaikan dalam larik berikut: sebuah cobek dan ulek/ menunggu dosa kita lumat/ dan digantikan jadi pahala/ itupun kalau bisa//.

Sedikit mengherankan memang, karena tak banyak laki-laki yang bisa atau setidaknya mengerti tentang proses masak-memasak. Apalagi saya yang taunya cuma makan saja, hehehe…


Sarabunis Mubarok,
Sastrawan dan pemerhati sastrawati
Aktif di Sanggar Sastra Tasik (SST)
dan komunitas Azan.



[Lembar Budaya, Radar Tasikmalaya, Minggu 13 November 2011]

1 note

Antologi PuisiHikayat Pemanen KentangMugya Syahreza SantosaPenerbit Tajug, BandungCetakan Pertama, Oktober 2011ISBN 978-602-19132-0-870 HalamanHarga Rp. 25.000EndosmentMembaca puisi karya Mugya Syahreza Santosa, seperti menikmati fenomena visual pada batik tradisi yang menampilkan berbagai ornamen, dikembangkan dari tetumbuhan yang terserak ada di antara kita. Sayangnya nuansa ini tak lagi dinikmati oleh masyarakat kota. Penulis, yang juga punya kesibukan berkebun, terasa sangat akrab dengan seluruh “sahabat” yang dihidupi sekaligus menghidupinya. Kesetaraan hubungan antar keduanya terungkap dalam puisinya, yang tersirat dalam pendar-pendar proses kreatif yang diakrabinya. Lebih dari itu makhluk tumbuhan ini tak lagi dianggap sebagai objek eksplorasinya, tetapi menjadi subjek wacana dialogi dalam sebuah aras profundity yang menggelitik secara liris dan memberikan kesadaran baru pada insan masa kini, terutama dalam menjaga keseimbangan hubungan antar manusia dan alam. Ini yang langka dan menjadi kelebihannya.(F.X. Widaryanto, Dosen Seni Tari STSI Bandung)Tidak selalu puisi harus dibaca dengan beban yang berat. Mugya Syahreza dalam Hikayat Pemanen Kentang mengirimkan setangkup metafora kuliner yang berisi “racikan-racikan hidup” yang ringan tapi asyik. Ada kesegaran yang ditawarkan, yang membuat buku ini menarik untuk dibaca.(Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais)Di Tengah puisi-puisi yang muncul saat ini cenderung seragam dan kesulitan mencapai orisinalitas, ada kesegaran yang menyeruak; hadirnya puisi-puisi Mugya Syahreza Santosa, puisi yang cerdas dan orisinal dalam cara pandang dengan pengolahan diksi dan bunyi yang intens. Puisi-puisi dalam Hikayat Pemanen Kentang ini menegaskan kekuatan lokal di tengah cengkraman budaya global. (Nenden Lilis A. Dosen Sastra Indonesia UPI, Penyair dan Prosais)

Antologi Puisi
Hikayat Pemanen Kentang
Mugya Syahreza Santosa

Penerbit Tajug, Bandung
Cetakan Pertama, Oktober 2011
ISBN 978-602-19132-0-8
70 Halaman

Harga Rp. 25.000


Endosment

Membaca puisi karya Mugya Syahreza Santosa, seperti menikmati fenomena visual pada batik tradisi yang menampilkan berbagai ornamen, dikembangkan dari tetumbuhan yang terserak ada di antara kita. Sayangnya nuansa ini tak lagi dinikmati oleh masyarakat kota. Penulis, yang juga punya kesibukan berkebun, terasa sangat akrab dengan seluruh “sahabat” yang dihidupi sekaligus menghidupinya. Kesetaraan hubungan antar keduanya terungkap dalam puisinya, yang tersirat dalam pendar-pendar proses kreatif yang diakrabinya. Lebih dari itu makhluk tumbuhan ini tak lagi dianggap sebagai objek eksplorasinya, tetapi menjadi subjek wacana dialogi dalam sebuah aras profundity yang menggelitik secara liris dan memberikan kesadaran baru pada insan masa kini, terutama dalam menjaga keseimbangan hubungan antar manusia dan alam. Ini yang langka dan menjadi kelebihannya.
(F.X. Widaryanto, Dosen Seni Tari STSI Bandung)

Tidak selalu puisi harus dibaca dengan beban yang berat. Mugya Syahreza dalam Hikayat Pemanen Kentang mengirimkan setangkup metafora kuliner yang berisi “racikan-racikan hidup” yang ringan tapi asyik. Ada kesegaran yang ditawarkan, yang membuat buku ini menarik untuk dibaca.
(Hanna Fransisca, Penyair dan Prosais)

Di Tengah puisi-puisi yang muncul saat ini cenderung seragam dan kesulitan mencapai orisinalitas, ada kesegaran yang menyeruak; hadirnya puisi-puisi Mugya Syahreza Santosa, puisi yang cerdas dan orisinal dalam cara pandang dengan pengolahan diksi dan bunyi yang intens. Puisi-puisi dalam Hikayat Pemanen Kentang ini menegaskan kekuatan lokal di tengah cengkraman budaya global. (Nenden Lilis A. Dosen Sastra Indonesia UPI, Penyair dan Prosais)

Donat Wortel Bolu

Arshile Gorky, Organization, 1933–36, oil on canvas, 49 3⁄4 x 60 in., National Gallery of Art, Washington, D.C.

sari yang kau peras dari wortel kau kubur
dengan terigu, juga bersama tiga sendok gula pasir
yang tiap butir mengekalkan
bayang kanak berdesir.

jangan ragu menggugahnya
dengan susu, obat manjur
pengusir kelu-pilu.
enam butir kuning telur
seperti perseteruan matahari mungil
yang akan kau campakan ke dalamnya.
disusul ragi penuh muslihat
dalam itikad, maka terakhir
saja mengisi ke dalamnya.

campur-aduk sampai mengembang
kalis, bagai dua lingkar alis bertemu pangkalnya.
jadi adonan yang kentara
dipandang, hati tak sabar
kelak tangan menyambar.

dengan penuh pertimbangan
akan ukuran dan muatan di dalamnya
kau pilih-pilah saja
sesuai imanmu.
apa kau menyukai kuning keju
yang kejutnya melukai atap mulutmu
atau butir kismis
yang irit dalam gigit
sengit dalam mengerip.
buat bulat, bualan wujudnya
lantas sementara telantar lagi
agar kembang dalam diamnya.

goreng di kedalaman minyak
yang panasnya
mengingatkan pada bunga api
awas terkucil-memerciki ke kulit wajah.

setelah menggelap-kilap
parasnya, kau akan tersentak
mengetahui di keleluasaannya
ketika memamah mesra
menarik diri dari renyah
bergumul nikmat syafaatnya.

2011 


Utusan Batu

Alastair MacKinven
Et Sick In Infinitum [sic]
2008
Oil on canvas
210 x 210 cm


kalau batu-batu mengusungku
padamu di tengah beku
terpaan hujan itu.
jadilah kau mengenakan wajah duri
dan tebuslah dosaku yang murni
semurni air susu di pagi hari.

meski tak sekekal mawar
aku sudah menciummu
lewat akar impian
merambahi masa silam.
meski tak seterjal langit
aku sudah menguburmu
lewat makam-makam tak bernisan.

tak bisa aku mengepungmu
sebab engkau sudah lama lepas
jadi kabut yang tersisip belati
jadi doa yang ganas dan tegas.

yang tertunduk lugu pada rumput
akan menjadi paling liar
dalam tatap nanar.
yang tergali dalam pada tanah
akan menjadi paling dangkal
dalam ucap sangkal.

perih mengalir tak kunjung
menemu muara.
dada pepohonan terbuka
menumpah asal luka.

di tebing-tebing kembali
aku tak bernama.
meski gagu kuseru juga
meski tak memanglingkan muka
aku sudah meraba dan menyekapmu
wahai esok yang buta.

menarilah aku bersama ruap gigil daun
gaung serangga dan sihir padma.
menembus kefanaan doa
menawar takdir dan nasib
pada karam lanskap di mata kita.

aku mengenalkan diriku
lewat sapa dan bisu beku purba.
mengenaskan menjadi anak panah
yang dilesapkan ke segala arah.
berharap ampunan tertangkap
dan bebaslah kita dari khianat
mata pahat.

2010

Pemahat Batu

Tomory Dodge
‘Salton Sargasso’
2005
Oil on canvas
228.6 x 215.9 cms


haruskah wajahmu
kulukai lagi dengan
pahatanku?
angin yang terus
bertiup dengan segala kutukannya
seakan-akan mantra hujan
memanggil dari dalam
tubuhmu.

dalam bisu
aku mengandung nyerimu.
nyeri yang menancap pasti
dalam selangkangan sepi.

ingin kukalungkan bayang-bayang
di antara ngilu
saat mata pahat
beradu dengan cangkangmu.

hendak kujadikan
kau patung ibu–
maria yang masih
begitu kau rahasiakan
dalam air mata.

2010

Di Tepian Sungai

http://www.saatchi-gallery.co.uk/imgs/artists/singh_schandra/schandra_singh_river.jpg(Schandra Singh ‘The Lazy River’ 2006 Oil on linen229 cm x 274 cm)


mencari rumah
di sela batuan.
terjebak nyanyian
rintik hujan.
semak belukar
menghampar hijau kadal,
ikan-ikan merenangi
masa silam, sebelum
saling rangkul gemetaran
dengan bayang,
kupandangi seberang.
seorang penyair melambai
mengajak senja pulang
ke pangkuan.

2010-2011

3 Sajak, Kompas 10 Juli

Preying Each Other II, 250 x 150 cm, acrylic on canvas, 2008 Dede Wahyudin

(Dede Wahyudin : Preying Each Other II)

Mujair Guyur Kecap Jahe

ikan tangkapan kami dini hari
berperisai permata abu-hitam
yang lihai menyeruak di keruh kolam.
mujur mata kail, jerat kami
tabah umpan utusan yang tenggelam.
gelepar sambar, menyentuh rasa lapar
kami di mata kail yang tajam.

peneman kami yang terbiasa begadang
mendengar sayup dangdutan
sambil mengocok kartu di hampar tikar.
membanting ngilu, melupa waktu
setelah hibuk di huma, kini saat
berhibur-hati semata.

siapkan api panggangan, biar kami mengelilinginya
unggun kayu sisa lapuk rumah gubuk.
ikan tertusuk aur, terserang panas bakar.
telentang di atas bara yang kekang.

sampai aroma membubung, mengelus
udara di tikung ruap hidung.
jadilah kuning kulitnya matang
melepuh keluar daging empuknya,
dosa besar sampai melewatkannya.

dua buku jahe yang kami timpuk
dicurah kecap manis akan kuyup
selera nikmat makin berpagut.

melahap renyahnya,
berhati-hati pada duri selubungnya.
bersabar di setiap sengat gurihnya
celemotan sekisar bibir
penanda syukur puas menguras
menemu akhir di tiap suap-sesapnya.

2011

Cobek Ikan Mas

pilihan tepat, tangkapkan tangkas
sang gumpal-gempal, ikan mas.
yang gemuk daging dan lebar sisik keping

mampu meremuk hasrat di mulut.
jauh dari piring tetap mewah.
di atas cobek saja, segan cucur
liurmu terkilah.

sebelum dirajam-jerang di wajan
siapkan ia yang telah disiangi
untuk  di balsam jeruk limau
limabelas menit sabarnya
sesaat sebelum kau berkhitah.

gerus empat butir bawang merah,
enam buah cabai rawit,
ikuti dengan cabai merah
bila perlu, ebi sekiranya
demi mendapat lebih gairah
bakarlah keempat bumbunya.
gula pasir, tiga buah kencur
dan ambil perasan jeruk limau pun
tumpahkan juga ke dalamnya,
biar menyerbuk sarinya
biar bubuk bersama dosa.

begitu matang ikan mas selesai
berperangai ruap, mencuri perhatian
biar telentang di cobek bersambal.
setumpak jadi berpadu-satu
lepihlah beberapa helai kemangi
yang akan menabur di atasnya.
jangan sambar tanpa kepul nasi
apalagi kalau bukan pandan wangi.
mana tahan, diri tak terkendali
memilih berebutan daripada tak kebagian
sedikit berlupa , daripada berpongah ria.

2011

Rujak Ulek Kecombrang

merahmu, malu-malu terintai
oleh sang pelaku, pelamun
yang berharap syahwatnya
terkuras di pedas, terajam di asam
bahkan terkikis ulah sang manis.

gerumbul yang mengaku
telah habis untuk mekar-kekar
di ujung bunganya yang menjuntai.
kau harus remuk-padu di atas cobek batu
sebelum pisang keras-kaku, yang berbiji hitam
ikut merayakan leburmu di situ.

akhirnya gula merahku, cabai
runcing melentik tipu, pula garam
yang lolos di sela ulekan ragu.
akan menambah liar cucur liur
siapa pun itu yang nanap menatapimu.
gongseng kacang tanah yang ripuk
hanya makin menghisap
keyakinan akan sengat hasrat
kebal pekat tabiat.

lalu di gunungan irisan
kedodong, buah pembohong.
nanas, pemeras paras asfar
yang boroknya tercukil sudah.
jambu air, buah merah muda
penggugah wibawa.
ubi yang merajuki mangga muda
saling terpincut saling berpagut.
akan dengan leluasa mereka semua
memadah dalam bumbunya
resap dalam sarinya
dan bersiap akan menenggelamkan
terang di cecap pertamanya.
lantas kemudian, kau mencuri celah
kabur dari tiap kunyahnya.

2011 

3 Sajak, 7 Agustus 2011 Suara Merdeka

Khaled Hafez, Mighty Hands Of Gemmis, 2008, Acrylic and collage on canvas, 200 x 250 cm.

(Khaled Hafez, Mighty Hands Of Gemmis, 2008, Acrylic and collage on canvas, 200 x 250 cm.)

Dua Belas Wawangsalan
 

hujan

ditembus pejalan gamang
langit bersih rupa wajan.

buku

selembar angkasa liar
tertulis ibuku kayu.

bara

suntuk mata merah nyala
tabah sendiri ngembara.

takdir

meniti perih semata
lebih jauh hadir dosa.

malam

yang terlampau jauh
yang tersulam doa.

ular

mengulur lidah berbisa
menjulur kelam berpusar.

kemboja

putih rupawan perkasa
layu jatuh sengaja.

makam

tergelar muara nyawa
maut berkilau menikam.

kolam

riak ikan melukiskan
seketika kelam nyata.

fana

tak perlu berdoa juga
sekadar surga gulana.

puisi

sesunyi tepi sabana
menunggu terisi kata.

musim

pengelana relung doa
dibopong jisim bermantra.

 
2011

 
Pengagung Belimbing

buah bahagia, buah bergigir lima
penawar lecut dahaga, penawan kecut di ujung lidah.
pada manis cerapnya, mohonkanlah
hujan yang sempurna tercuri
kuning kulit licinnya.
pada legit seratnya, pintakanlah
gairah yang subur terlabur
di daging ranumnya.

jangan jerat pilu di antara rimbunmu
biar kau makin lebat, makin lebar pintu
menuju panenmu.
jangan pula hardik pemetik paksamu
biar ia merasa terpuas, meski mulut berdosanya
cuma merobek berahi dahaga semata.

buah bahagia, buah bergigir lima
seperti sajak yang terikat rima
seperti sunyi yang tak lupa menjenguk kita.
jantungku berdebar, memuja-muja
kata-kataku doa menjelang buahmu matang
yang samar-samar dijelmakan petang.
 
2011

 

 
Beras Wutah
 
tersekap jambangan
di teras perumahan,
sambil ditemani lantai marmer
atau pualam,
kau terlukis diam-diam oleh tangan gaib.
 
daunmu kanvas kosong yang tersobek
kesunyian.
lantas tersaput kembali
putih kuas kebakaan.
 
2011

Page 1 of 2

1

2

Next ›